Candi Mendut

Resep Sate Ayam Goreng

Sewa Mobil di Bali

Candi Mendut

Mendut adalah candi Budha abad kesembilan, terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak sekitar tiga kilometer timur dari Borobudur. Mendut, Borobudur dan Pawon, yang kesemuanya merupakan candi Budha, terletak dalam satu garis lurus. Ada hubungan agama bersama antara ketiga candi tersebut, walaupun proses ritual pastinya tidak diketahui.
Sejarah

Reruntuhan candi Mendut sebelum restorasi, 1880.
Dibangun sekitar awal abad kesembilan Masehi, Mendut adalah yang tertua dari tiga candi termasuk Pawon dan Borobudur. Prasasti Karangtengah, candi ini dibangun dan selesai pada masa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Sailendra. Prasasti bertanggal 824 M tersebut menyebutkan bahwa Raja Indra dari Sailendra telah membangun sebuah bangunan suci bernama Venuvana yang berarti “hutan bambu”. Arkeolog Belanda JG de Casparis telah menghubungkan kuil tersebut yang disebutkan dalam prasasti Karangtengah dengan kuil Mendut.

Pada tahun 1836 itu ditemukan sebagai reruntuhan yang ditutupi oleh semak-semak. Restorasi candi ini dimulai pada tahun 1897 dan selesai pada tahun 1925. Beberapa arkeolog yang telah melakukan penelitian di candi ini adalah JG de Casparis, Theodoor van Erp, dan Arisatya Yogaswara.

Arsitektur
Patung Dhyani Buddha Vairocana, Avalokitesvara, dan Vajrapani di dalam kuil Mendut
Rencana basis kuil itu persegi, dan berukuran 13,7 meter di setiap sisinya, dengan tingkat dasar 3,7 meter di atas tanah. Pura setinggi 26,4 meter menghadap ke barat laut. Tangga yang memproyeksikan dari sisi barat laut alun-alun ditinggikan dihiasi dengan patung Makara di masing-masing sisi, sisi tangga yang diukir dengan relief relief Jataka yang menceritakan kisah satwa ajaran Buddhis. Teras persegi yang mengelilingi badan candi itu dimaksudkan untuk pradakshina atau ritual mengelilingi, berjalan searah jarum jam mengelilingi candi. Dinding luar dihiasi oleh relief Boddhisattva (dewa-dewi Buddha), seperti Avalokitesvara, Maitreya, Cunda, Ksitigarbha, Samantabhadra, Mahakarunika Avalokitesvara, Vajrapani, Manjusri, Akasagarbha, dan Boddhisattvadevi Prajnaparamita di antara tokoh-tokoh buddhis lainnya. Awalnya kuil itu memiliki dua kamar, sebuah ruang kecil di depan, dan ruang utama besar di tengahnya. Atap dan beberapa bagian dinding ruang depan hilang. Bagian paling atas dari atap hilang, ia seharusnya memiliki stupa puncak dengan ukuran dan gaya mungkin seperti yang ada di kuil Sojiwan. Dinding bagian dalam ruang depan dihiasi oleh relief Hariti yang mengelilingi anak-anak, Atavaka di sisi lain, Kalpataru, juga kelompok dewa-dewa devatas yang terbang di surga.

Lokasi tiga candi Budha, Borobudur-Pawon-Mendut, dalam satu garis lurus melintasi Sungai Progo.
Ruang utama memiliki tiga ukiran patung batu besar. Patung Dhyani Buddha Vairocana setinggi 3 meter dimaksudkan untuk membebaskan para pemuja dari karma jasmani, di sebelah kiri adalah patung Boddhisatva Avalokitesvara untuk membebaskan karma ucapan, di sebelah kanan Boddhisatva Vajrapani terbebas dari karma pemikiran.

Ritual

Relief dasar Hariti di dinding utara utara Mendut
Saat ini, pada bulan purnama di bulan Mei atau Juni, umat Budha di Indonesia mengamati ritual tahunan Waisak dengan berjalan kaki dari Mendut melewati Pawon dan berakhir di Borobudur. Ritual tersebut berupa doa massal Buddha dan pradakshina (keliling) di sekitar pura.

Bagi orang Jawa setempat, terutama mereka yang mengikuti ajaran mistisistik tradisional Kejawen Jawa atau praktik budayanya, sholat di Candi Mendut dipercaya bisa memenuhi berbagai keinginan, seperti pembebasan dari penyakit.

Kelegaan dasar Hariti misalnya sangat populer di kalangan pasangan suami istri bertubuh Jawa lokal untuk berdoa bagi seorang anak, karena dalam kepercayaan tradisional Jawa, Hariti dianggap sebagai simbol kesuburan, pelindung dari ibu dan pelindung anak-anak.

Paket Watersport di Bali