Renovasi Kecil Perlukah IMB (Izin Mendirikan Bangunan)

Tidak sedikit yang beranggapan, bahwa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) memang hanya dibutuhkan ketika saat membangun rumah baru atau rumah yang di renovasi. Memang, pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru, namun Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sepatutnya memang dibutuhkan saat merenovasi rumah. Namun tidak semua jenis renovasi harus memiliki Izin Mendirikan Bangunan. Amannya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk niatan renovasi setidaknya tentu saja sangat juga dibutuhkan terutama bila perombakan tersebut sudah sampai ke pekerjaan mengubah tampilan ruang, misalnya mengubah kamar menjadi ruang tamu atau membongkar tembok untuk memperluas ruang.

Penambahan luas bangunan, baik ke atas maupun ke samping juga termasuk kategori renovasi yang memerlukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Sedangkan perubahan fasad, meskipun terkesan sangat kecil, tentu saja harus memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Sementara, menurut Perda no.7 tahun 1991, pemeliharaan bangunan seperti pengecatan, penggantian genting dan sebagainya yang tidak berpengaruh terhadap struktur dianggap tidak perlu memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Mengapa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sebegitu pentingnya? Menurut Ir. Hilman Mashoedi (konsultan perizinan), Izin Mendirikan Bangunan (IMB) diperlukan untuk memastikan bangunan tersebut sudah sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan.

Bila bangunan sesuai ketentuan yang berlaku, tentu manfaatnya juga dirasakan oleh masyarakat banyak. Misalnya saja soal sumur resapan, yang kini menjadi syarat mutlak Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Jika pembuatan sumur resapan dilakukan oleh seluruh masyarakat pemilik Izin Mendirikan Bangunan (IMB), tentu Jakarta akan menabur air. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) juga diperlukan dalam transaksi jual beli dan sewa menyewa. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) juga menjadi salah satu syarat dalam pengajuan kredit, agunan dari bank, ataupun asuransi. Tidak Sulit Stigma yang berkembang di masyarakat adalah membuat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) itu sulit sehingga banyak yang malas membuatnya. Benarkah sulit dan berbelit? Sebenarnya, proses pembuatan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) cukup mudah, cepat, asalkan semuanya sesuai ketentuan.

Tentu saja ada beberapa yang wajib kita lakukan, diantaranya adalah menyiapkan semua semua berkas yang diperlukan selengkap mungkin, sebelum anda mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ke loket. Biasanya yang terjadi adalah, dokumen baru dipersiapkan saat sudah mengambil formulir, sehingga pembuatan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menjadi lama. Setiap daerah memiliki ketentuan dan cara pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang berbeda-beda. Untuk wilayah daerahDKI Jakarta, tata cara pemohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) diatur dalam SK Gubernur DKI Jakarta no 76 tahun 2000. Dan mulai tahun 2008 ini, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk rumah tinggal (dengan luas di bawah 1.500 m2) dapat dibuat di P2B tingkat kecamatan saja. Tapi, pelayanan di kecamatan ini terbatas pada rumah tinggal yang tidak memiliki lantai basement, atau mezanin, atau loteng.

Bagaimana jika saat pembuatan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ada perubahan desain rumah yang cukup signifikan? Menurut Hilman, jika Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum selesai (artinya masih dalam proses), Anda tinggal memasukkan surat pemberitahuan tentang pergantian desain, disertai dengan gambar. Tapi kalau Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sudah terlanjur jadi, mau tak mau yang mesti dilakukan adalah mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) baru. Tergantung Luasan Masing-masing daerah memiliki ketentuan sendiri tentang besaran biaya retribusi IMB. Di DKI Jakarta, jumlah yang mesti dibayarkan didasarkan pada Peraturan Daerah No 1 tahun 2006 tentang Retribusi Daerah. Menurut peraturan tersebut, retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dihitung berdasarkan Pelaksanaan renovasi baru boleh dilakukan setelah surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) terbit. rumus : luas total lantai bangunan x harga satuan.

Renovasi yang hanya berupa penambahan lantai (tingkat) atau hendak melakukan pelebaran luas bangunan, maka hitungan biaya administrasi terhadap retribusi dihitung dari luas total lantai bangunan tersebut dan dikalikan dengan harga satuan. Jika renovasi tidak menambah luas bangunan, maka rumusnya: 25 persen x (luas total lantai bangunan perubahan x harga satuan). Disamping itu hasil besaran biaya renovasi pada area yang memang terlihat sulit apabila dihitung luasnya, contohnya seperti fasad, maka biaya retribusinya: 1,75 persen X biaya pelaksanaan perubahan. Nah, kalau dilihat-lihat, biaya mengurus IMB tidak terlalu mahal kan? Proses Pengajuan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

Tahap I : Penyerahan Dokumen dan surat-surat yang diperlukan

Tahap II : Petugas lapangan akan memeriksa dan mengecek apakan ada masalah di lapangan.

Tahap III : Jika tidak ada masalah dapat langsung membayar di loket

Tahap IV : Pembuatan papan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Papan kuning ini dapat dibuat sendiri dengan mengacu pada ketentuan yang ada atau dapat membelinya di loket.

Tahap V : Izin Mendirikan Bangunan (IMB) akan selesai dalam waktu 8 hari kerja setelah pembayaran selesai.